Inspirasi Muslimah di Jepang Episode 1: Alanna Faradhiyani

alanna

 

 

 

 

Perjalanan Alanna di Jepang

Perjalanan Alanna ke Jepang dimulai ketika teman Ayahnya yang juga alumni Monbusho memberikan informasi tentang beasiswa pemerintah Jepang ini.

Saat keinginan ke Jepang itu muncul, Alanna masih tercatat sebagai mahasiswa di Universitas Udayana. Namun memang, gadis yang menghabiskan masa kecil di Bali ini sudah merasa tidak cocok dengan jurusan yang diambil saat itu. Akhirnya Alanna ingin mencoba petualangan baru dengan mendaftar beasiswa Monbusho.

Hijrah ke tempat baru dan hidup sendiri sebenernya bukan hal baru untuk dara bali ini. Sejak dini Alanna sudah tinggal di Bandung berpisah dengan orang tua untuk melanjutkan SMA.

Lalu, apakah setelah tinggal lebih dari 5 tahun di Jepang, Alanna merasa negara ini sesuai dengan prediksinya?
Menurut gadis berparas ayu ini, Jepang yang `tepat waktu` dan `workaholic` sesuai dengan ekspektasinya, tetapi ada satu hal yang memang menjadi tantangan awal (dan mungkin sampai sekarang?) selama tinggal di jepang.

Menghabiskan masa-masa 専門学校 di Toyama dan dilanjutkan di Tsukuba University, Alanna merasa bahwa berteman dengan orang Jepang memang tidaklah mudah. Mencari topik pembicaraan dengan teman wanita Jepang pun bukan hal sederhana.”Aku ga terlalu suka baca komik, dengerin J-pop juga ga suka, gimana dong?” Imbuh Alanna.
Dengan keadaan seperti itu pun, Alanna tetap berusaha menjaga hubungan pertemanan dengan teman-teman Jepangnya.

Alanna lebih dari paham bahwa tinggal di Jepang membutuhkan kerja keras. Seperti saat proses mendapatkan beasiswa dari D3 menuju S1 lalu S2, itu bukan perjuangan main-main. Terlebih lagi ketika harus bersaing sesama kawan dekat yang sudah lama berjuang bersama dari awal tiba di Jepang, untuk mendapatkan beasiswa S2 yang jumlahnya terbatas.

Selain dari itu, proses belajar selama S2 memberi makna tersendiri untuk gadis bersuara merdu ini.Selama menjalani pendidikan S2 di Tsukuba, Alanna belajar untuk menghargai proses riset yang dialami dan tidak membandingkan prestasi dan keadaan riset orang lain dengan dirinya, yang berujung membuat dirinya kurang bersyukur.

Dengan mental berjuang tersebut, Alanna berusaha menampilkan prestasi terbaik, salah satunya dengan menjadi perwakilan lab untuk melakukan presentasi ilmiah di conference 学会. Hal ini adalah pencapaian tersendiri untuk mahasiswa asing di lab yang bersuasana sangat Jepang.

Dibalik kesulitan yang dialami selama di Jepang, Anak sulung dari 4 bersaudara ini mengaku bersyukur atas kemewahan fasilitas studi yang didapatkan selama di Jepang.

Di Jepang ini dia bisa menggunakan berbagai bahan kimia penelitian secara percuma, dimana sebagian besar kawan di Indonesia masih harus membayar “biaya belajar” tersebut . Alat penelitian sudah tersedia lengkap, tidak perlu repot meminjam ke lembaga lain. Selain itu, akses jurnal internasional dan kesempatan mengikuti conference pun terbuka luas.

Tantangan di Jepang berlanjut, nikmat yang Allah berikan pun berlanjut tak terputus. Karena itulah, Alanna berusaha belajar untuk tidak mengeluh karena tantangan orang lain sangat mungkin lebih berat dari dirinya.

Perjalanan Hijab Alanna

Alanna pertama kali menggunakan hijab saat SMP saat mendapat datang bulan yang pertama. “Pakai hijab itu memang bukan pilihan tapi kewajiban, jadi pakai begitu harus sudah pakai”, kata Alanna.

Tinggal di Bali dan berhijab, saat itu, juga masih menjadi pemandangan yang baru. dan ini adalah tantangan tersendiri bagi Alanna. Tantangan yang sama juga dialami ketika berhijab di Jepang. Perbedaannnya adalah, Alanna merasa harus menjelaskan tentang Islam kepada orang Jepang yang bertanya, tanpa menyiratkan kesan bahwa Islam adalah Agama yang berat.

Sebagai wajah atau representasi muslimah Indonesia di Jepang, Alanna merasa harus berperilaku dengan lebih berhati-hati untuk mengurangi judgment tertentu terhadap perempuan berhijab.

Role model Alanna
Menjadi sosok Alanna seperti sekarang, mandiri sejak dini dan berprestasi tentu bukan tanpa sokongan dari orang tua. Alanna sendiri, memilih Ibunya sebagai orang yang banyak menginspirasi dirinya.
Menjadi single mother setelah berpisah dengan Ayah Alanna dan mengurus 4 anak perempuan, tentu membutuhkan jiwa yang tangguh.

Ketangguhan inilah yang Alanna banyak belajar dari sang Ibu.
Alanna belajar bahwa sebagai perempuan harus siap dengan segala kondisi di masa yang akan datang. Sehingga melanjutkan sekolah itu penting dan berpikir untuk punya kemandirian finansial adalah hal yang tidak dikesampingkan, meskipun memang bukan kewajiban.

Menjadi kakak dari 3 adik perempuan tetapi tinggal jauh dari adiknya sejak lama pun menjadi tantangan buat Alanna. Meskipun memang dia tidak bisa melihat langsung momen-momen besar dari sang Adik, tetapi dia berusaha untuk terus memberikan “dukungan kakak” dari jauh.

Insya Allah, Ayah, Ibu dan adik-adik bangga mempunyai anak (sekaligus kakak) seperti Alanna ya <3

Terimakasih banyak ya Alanna sudah bersedia diwawancara Ibu Kyoko <3

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *