Belajar dari Teh Afwa Firdausi (Lulusan Farmasi ITB & Kanazawa University)

Afwa Firdausi

Begitu banyak teteh dan kakak rantau yang memberikan pelajaran hidup (hehe) bagi Ibu Kyoko, salah satunya adalah Teh Afwa Firdausi.

Beliau itu kalau diibaratkan kain, mungkin seperti Kain Cotton nya Rashawl. Terliat seperti “katun umum” dari luar, terlihat polos. tetapi kalau mau kita pegang, kita akan segera tau bahwa katun ini beda kualitasnya. Kalau kita mau menelisik lebih dalam, maka kita akan tau betapa luar biasanya Teh Afwa dibalik sifat “penghindar spotlight” nya.

Sebagai mahasiswa pertukaran dengan beasiswa yang Alhamdulillah cukup, namun acap kali seret di akhir bulan membuat Ibu Kyoko amat bersyukur jika ada senior yang menawarkan traktiran ataupun masakan bikinan sendiri. Tehh Afwa, adalah salah satu wanita perkasa yang baik hati memasakkan makanan enak setiap kali Ibu Kyoko berkunjung ke rumah. Dari zaman Ibu Kyoko masih imut sebagai mahasiswa pertukaran, hingga menjalani fase tidak imut selama menjadi mahasiswa S2.

Kedatangan Tehh Afwa ke Jepang dimulai dengan menjadi research student program Master di Kanazawa University via Beasiswa Monbusho U to U. Keputusannya untuk memilih studi di Jepang adalah karena saat itu kebetulan dia melihat pengumuman untuk masuk ke Universitas tersebut. Di saat yang sama, kebetulan Teh Afwa belum mendapatkan pekerjaan yang diinginkan. Sungguh kebetulan yang indah.

Tidak pernah terfikir oleh Tehh Afwa bahwa dia akan berada di Jepang sampai sejauh ini. Memulai dari studi S2 di Kanazawa, lalu melanjutkan kerja di salah satu perusahaan ternama di Tokyo. Dulu, dia berfikir bahwa dia akan bekerja tidak jauh dari lokasi rumahnya di daerah Jawa.

Tehh Afwa diberkahi Allah bertemu dengan banyak orang baik semenjak menapakkan kaki di Jepang. Mulai dari teman lab yang tidak segan menyapa terlebih dahulu hingga Sensei (Professor di lab) yang mendukung dirinya. Mempunyai teman lab yang baik dan Sensei yang supportive adalah hal yang amat patut disyukuri ketika studi di negara matahari terbit ini. Hal yang paling Teh Afwa ingat dari Professor adalah ketika beliau berkata “No Excuse”. Hal ini dilontarkan saat Teh Afwa menjelaskan bahwa dia tidak bisa melakukan hal ini dan itu di awal masa-masa nya di lab. Setelah Sensei nya berkata seperti itu, Teh Afwa makin memahami secara jelas bahwa di Jepang ditunjukkan untuk mereka yang mau bekerja keras.

Teh Afwa yang jago menghias rumah dan jago memotret ini (bisa disebut multitalenta karena dia juga jago menggambar!) menyimpan keinginan untuk kembali pulang ke Indonesia. Jika suatu saat nanti balik ke Indonesia maka Teh Afwa ingin mengurus manajemen sekolah yang sedang dibangunnya di Indonesia bersama dengan saudaranya, sambil mengerjakan kerja sambilan yang bisa dikerjakan dari rumah. Wah menariknya..

Perempuan lulusan Farmasi ITB ini pun menjadi banyak rujukan teman-teman Indonesia tentang makanan halal selama tinggal di kanazawa-shi, Ishikawa-ken. Hal ini tidak lepas dari kelihaian Teh Afwa dalam berbahasa Jepang, selain itu beliau adalah orang yang berhati-hati serta bisa dipercaya.Oh iya, terkait kemampuan bahasa Jepang Teh Afwa yang fasih, beliau bisa mencapai level tersebut dalam kurun waktu kurang dari 3 tahun!

Kalau ditanya apakah alasannya bisa cepat fasih dalam belajar bahasa Jepang, selain memang Teh Afwa membangun mental “no excuse” tersebut, Tehh Afwa pernah diancam untuk turun level kelas bahasa Jepang jika nilai bahasa Jepang nya tidak membaik. Karena Teh Afwa adalah satu-satu nya orang Indonesia di kelas tersebut, dan ancaman dari guru tersebut diketahui oleh teman-teman murid internasional di kelas tersebut, maka Teh Afwa berusaha keras untuk tidak memalukan nama Indonesia (setidaknya hihi) dengan belajar keras. Bravo Teh Afwa, keren!

Banyak orang yang berjasa membentuk pribadi pembelajar seperti Teh Afwa sekarang, salah satunya adalah almarhum Bapak Tehh Afwa. Teh Afwa bercerita bahwa orang yang memotivasinya belajar agama adalah Bapaknya. Dari tidak terlalu paham dengan agama, Bapak berusaha menemukan Islam dengan mengikuti Pak Haji sembari bekerja sambilan. Kerja keras Bapak untuk menemukan islam sendiri, menjadi modal semangat Teh Afwa untuk belajar agama.

Tehh Afwa bangga menjadi muslimah, dengan memakai jilbab itu menjadi identitas pembeda kita ketika berada di negara dengan muslim minoritas . Saat di Taiwan, Perempuan yang identik dengan warna biru ini pernah ditegur oleh seorang Singapur-cina ketika sedang mengantri makanan di restaurant. Seseorang tersebut berkata bahwa “Teh Afwa tidak bisa makan makanan tersebut karena mengandung babi”,di mulai dari perkataan itu, Teh Afwa dan orang tersebut bisa memulai obrolan. Mendapat teman baru 🙂

Bersyukur berjilbab, karena dengan begitu kita terselamatkan dari keburukan 🙂

Begitu banyak hal yang bisa ditulis tentang senior yang satu ini, namun kali ini kita selesaikan disini dahulu. Untuk mengenl Teh Afwa melalu karya fotonya, bisa dicek disini: https://www.instagram.com/biruijo/ & https://www.instagram.com/ijobiru/

Sampai ketemu di pos selanjutnya ya! <3 <3

 

Salam,

Ibu Kyoko

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *