Cuplikan Kisah Dari Kanazawa: Menikah dan membesarkan anak di Jepang

Kanazawa adalah kota tempat pertama Kali Ibu Kyoko berkenalan dengan Jepang, sehingga tidak salah jika kota dan para orang yang dikenal disitu memberikan banyak kenangan baik lagi menarik.

Salah satu yang memberikan kenangan seru adalah pasangan indonesia-Jepang yang sudah lama tinggal di Kanazawa. Orang yang berada pada lini terdepan, jika ada orang Indonesia yang butuh bantuan, khususnya jika itu issue itu berhubungan dengan warga lokal hehe.

Pasangan itu adalah Pak Matsui dan Mbak Hikmah.

Mungkin orang penasaran, bagaimana seorang perempuan Indonesia bisa menikah dengan WN Jepang? apakah dari dulu memang sudah bercita-cita menikah dengan orang asing?

atau memang sejak dulu berkeinginan kuat untuk tinggal lama di Jepang?

Ternyata dua motivasi itu tidak ada di diri Mbak Hikmah sejak awal 😃

Wanita keturunan arab & bali, asal surabaya ini tidak ada niat sama sekali untuk ke Jepang, apalagi menikah dengan orang Jepang.

Jika memang ingin ke Jepang, Mbak Hikmah hanya ingin mengikuti short-term exchange program, karena memang tidak ingin berlama-lama tinggal 😀

Namun, siapa sih yang bisa mengelak dari takdir Allah?

Suatu hari, seorang lelaki Jepang berkujung ke kampus Mbak Hikmah, tepatnya ke Jurusan Bahasa Jepang dengan harapan bisa mengobrol dengan orang Indonesia berbahasa Jepang.

Lelaki itu bernama belakang Matsui. Lelaki ini datang ke Indonesia untuk mengajar karate selama setahun pada awalnya, tetapi karena disana ternyata bertemu dengan seorang perempuan yang membuat hati nya terketuk (hihi), dan berniat langsung meminang gadis tersebut.

Pada awalnya, Mbak Hikmah merasa ragu bahwa keluarga nya akan menerima Pak Matsui. Apalagi, posisi pak Matsui saat itu masih menjadi orang Jepang dan belum meminta ijin orang tua sendiri untuk menikah

Mbak Hikmah ingin Pak Matsui belajar Islam terlebih dahulu baru kembali melamar Mbak Hikmah, namun, ternyata tekad Pak Matsui untuk menikah sangat kuat. Ketika berhadapan dengan calon mertua untuk meminta izin menikah, tanpa disangka Ibu dari Mbak Hikmah langsung luluh. “Raut wajahnya raut wajah orang baik”, begitu kata Ibu Mbak Hikmah. Ah, itu memang yang namanya jodoh.

Mbak Hikmah berkata bahwa salah satu cobaan yang paling berat bagi suami ketika baru saja masuk Islam, bukan karena tidak bisa makan babi ataupun minum alkohol (karena pada dasarnya Pak Matsui tidak menyukai kedua hal ini), tetapi adalah ketika mencoba puasa di musim dingin dan ditambah lingkungan kerja yang berat.

Saat itu, lingkungan pertemanan Pak Matsui mungkin tidak habis fikir kenapa ada orang Jepang yang memutuskan beragam Islam, bahkan sebenernya memutuskan beragama di tengah masyarakat yang memilih tidak beragama sepertinya sudah terlihat aneh. “Kenapa kamu beragama?” memang menjadi salah satu pertanyaan koleganya.

Itulah salah satu resiko terbesar dari seorang warga Jepang ketika memutuskan untuk masuk Islam, yaitu kemungkinan kehilangan komunitas nya yang dahulu. Tapi, insya Allah jika semuanya dilakukan demi Allah, maka menjadi berkah.

Membesarkan anak di Jepang sambil menanamkan identitas sebagai muslim adalah tantangan yang cukup berat. Mbak Hikmah ingin anaknya berfikir bahwa tidak ada yang salah menjadi orang Jepang dan muslim, dan dengan menjadi anak dengan latar belakang dua negara tidak membuat mereka “kurang menjadi Jepang”.

Suatu ketika, salah seorang anak Mbak Hikmah berkata: “Saya sudah memilih sebagai orang Jepang, jadi saya tidak usah menjadi seorang muslim”. Mendengar perkataan tersebut, Mbak hikmah lalu memperlihatkannya video mengenai orang Jepang yang menjadi muslim, bagaimana perjalanan mereka sampai menemukan ajaran yang indah ini. Lalu, beliau juga memperlihatkan kepada anaknya tentang Muslim di belahan dunia lain. Menjadi muslim itu tidak ada kaitannya dengan gender, suku ataupun ras.

Sebenarnya, untuk pertanyaan anak yang seperti ini, Mbak Hikmah sudah mempunyai jawaban yang singkat tapi sangat mengena “Kalau menjadi jepang lalu tidak usah menjadi muslim, lalu Ayah mu kurang “jepang” bagaimana lagi?”

Selain itu, menurut Mbak Hikmah, hal yang harus paling dikuatkan oleh anak yang besar di Jepang adalah tauhidnya, karena di Jepang ini terlalu banyak hal yang syirik. Salah satunya adalah jika  menemukan bunga “four-leaf clover” berarti akan mendapatkan keberuntungan, jika menemukan kucing hitam maka akan mendapatkan kejadian buruk seharian.

Tidak mudah bagi seorang Ibu untuk “menuntun” suami menjadi seorang muslim dan anak-anak menjadi penerus generasi yang mengingat Tuhannya. Namun, segala hal yang Mbak Hikmah lakukan insya Allah akan menginspirasi orang sekitar dan semoga Allah SWT memberkahi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *