Category: Inspirasi Muslimah

How to keep the faith strong while living abroad: Story from Indonesian Muslimah in Japan

Japan is now busily preparing for Tokyo Olympic 2020. They are not just building huge infrastructure for sports venue but the government also create supporting facilities to cater the needs of athletes, officials, and visitors who come from different countries and religions. Especially for Muslims, government and local business take a further step by providing prayer hall in the airport, as well as in the department stores. Halal restaurants are now easily navigated specifically in big cities, ranging from cheap to luxurious meal set, Japan is ready to please your taste bud without worrying the ingredients.

Higher Education in Japan also becomes more global. Many top universities are providing English-based programs, which allow students to have lectures and writing the final thesis in English. Japanese companies start to open global recruitment too, it’s only for foreigners whose been already living in Japan, but also for a fresh graduate from foreign universities. With wide opportunities Japan has to offer, no doubt there will be more number of foreigners coming to and living in Japan.

Muslimah living in Japan comes in many roles, from student, mother, nurse to a company worker, or widely known as Shakaijin (Adult Society). Spending daily life as a Muslim foreigner, could not hear adzan unless downloading the adzan application, and celebrating Eid without the existence of family & relatives, are some of the hardest parts of living abroad. However, these ladies have their way to keep their faith strong, and through this article, they will share you how.


(Camii mosque: Picture taken from Yhotarafelino`s IG)

Keeping the faith strong by participating in Islamic Circle or Ta`lim

Every region and university have a circle of Islamic learning which has routine activities every two or three times a month. In Tsukuba and Tokyo Area, for example, weekly ta`lim are held with various topics such as Fiqh, Aqidah, even science, and technology. For Muslimah, the activities are even more varied as we occasionally have cooking class and beauty class too.

Connected to an Islamic circle will not just enrich your Iman but also let you taste the sweetness of Ukhuwah Islamiyah.Lina is an Indonesian student living in Osaka who converted to Islam on Ramadhan 2016 after learning about this beautiful Dien at Kobe mosque, and through the guidance of an Ustadzah from the same region. Lina is also participating in an Islamic circle of Indonesian students in Kobe, where she met sisters that keep each other on the path of goodness. With whom she spent her first Ramadhan and Eid as a Muslim.

It`s a grateful thing to have friends that make us closer to Allah, just like what Prophet Muhammad SAW counseled: The best friend is someone who helps you remember Allah SWT, and reminds you when you forget Him.


(Ramen Cooking Class by Muslimah Islamic Circle of Ibaraki Prefecture-Photo Courtesy of Annisa Anindita)


Using Online & Offline resources to dig more about Islam 

Fake information appears to be everywhere these days so we need to be intelligent enough to absorb that information with a critical mind, especially when it related to Islam. Sometimes Japanese work-colleague and college friends are eager to know our opinion regarding bad news related to Islam, for example about the terror attack and ISIS. To make a profound argument, we need to enrich our Islamic knowledge and watching Islamic lectures video is one of the ways.

In Youtube, people often uploaded video, with good audio quality, of Islamic lectures given by popular ustadz from Aa Gym to Nouman Ali and it sometimes in complete series. Major mosques in Japan serves as learning center too. Okachimachi Mosque or Camii Mosque, both based in Tokyo, are occasionally hold Islamic lectures, and even Cultural Exchange Bazaar that attracts Japanese citizens.

Do not feel hesitate to tell other about Islam “Do`s and Dont`s”

If you are invited to a drinking party (nomikai) or were asked to go out for a lunch by your Japanese friends, do not feel hesitate about “What do and don`t”. They will respect your choice and even will help you further, by checking the food ingredients for you so you can eat in ease.

From my experience so far, whenever I have a welcome party with Japanese, they will try their best to cook only Halal meal (using only Halal-slaughtered meat). Even if they are using Haram ingredients in their dish (most of the cases is pork), they will tell you in advance.

Same goes with praying, do not feel hesitate to do prayer whenever the Adzan calls and ask for a prayer space. Even nowadays, some universities and companies provide prayer room with adequate space. Dea, a friend who works as an Engineer, mentioned that on the top of having a permanent prayer room, her company allows her to have “Hajj” leave, allowing her to come later to Office and go back earlier during Ramadhan. Masha Allah, It’s so beautiful if we can respect each other.



Last: Believe that everything happens for a good reason

Dea, who’s married to a Japanese Muslim, is started to fully wear hijab during her second year of employment. Her husband wholeheartedly supports her decision and even asked her to wear it since they got married. Dea feels really blessed to have a husband who eager to learn and teach about Islam even though he does not grow up in a Muslim family. And to have such an understanding parents-in laws who respect their children`s decision to pursue Islam just complete the blessings.

(Dea & Husband (Personal Documentation))


Dea never thought that her journey in Japan becomes her transition gate to become a better Muslimah. Not just Dea, I have witnessed many friends who start wearing hijab and engaging in Islamic activities during the years abroad.

The journey miles from home has widened our perspective, enrich our mind and soul, as well as challenge our critical thinking. Indeed it has ups and downs, but whenever we feel like giving up just believes that Allah is the Greatest Planner.

“Allah knows what is before them and what is behind them. We may not understand what happens now, but Allah does.” It is due to His blessings that we are able to pursue our dreams in Japan, and we believe there`s a good reason for our existence.





Written by:

Annisa Anindita Zein



Cuplikan Kisah Dari Kanazawa: Menikah dan membesarkan anak di Jepang

Kanazawa adalah kota tempat pertama Kali Ibu Kyoko berkenalan dengan Jepang, sehingga tidak salah jika kota dan para orang yang dikenal disitu memberikan banyak kenangan baik lagi menarik.

Salah satu yang memberikan kenangan seru adalah pasangan indonesia-Jepang yang sudah lama tinggal di Kanazawa. Orang yang berada pada lini terdepan, jika ada orang Indonesia yang butuh bantuan, khususnya jika itu issue itu berhubungan dengan warga lokal hehe.

Pasangan itu adalah Pak Matsui dan Mbak Hikmah.

Mungkin orang penasaran, bagaimana seorang perempuan Indonesia bisa menikah dengan WN Jepang? apakah dari dulu memang sudah bercita-cita menikah dengan orang asing?

atau memang sejak dulu berkeinginan kuat untuk tinggal lama di Jepang?

Ternyata dua motivasi itu tidak ada di diri Mbak Hikmah sejak awal 😃

Wanita keturunan arab & bali, asal surabaya ini tidak ada niat sama sekali untuk ke Jepang, apalagi menikah dengan orang Jepang.

Jika memang ingin ke Jepang, Mbak Hikmah hanya ingin mengikuti short-term exchange program, karena memang tidak ingin berlama-lama tinggal 😀

Namun, siapa sih yang bisa mengelak dari takdir Allah?

Suatu hari, seorang lelaki Jepang berkujung ke kampus Mbak Hikmah, tepatnya ke Jurusan Bahasa Jepang dengan harapan bisa mengobrol dengan orang Indonesia berbahasa Jepang.

Lelaki itu bernama belakang Matsui. Lelaki ini datang ke Indonesia untuk mengajar karate selama setahun pada awalnya, tetapi karena disana ternyata bertemu dengan seorang perempuan yang membuat hati nya terketuk (hihi), dan berniat langsung meminang gadis tersebut.

Pada awalnya, Mbak Hikmah merasa ragu bahwa keluarga nya akan menerima Pak Matsui. Apalagi, posisi pak Matsui saat itu masih menjadi orang Jepang dan belum meminta ijin orang tua sendiri untuk menikah

Mbak Hikmah ingin Pak Matsui belajar Islam terlebih dahulu baru kembali melamar Mbak Hikmah, namun, ternyata tekad Pak Matsui untuk menikah sangat kuat. Ketika berhadapan dengan calon mertua untuk meminta izin menikah, tanpa disangka Ibu dari Mbak Hikmah langsung luluh. “Raut wajahnya raut wajah orang baik”, begitu kata Ibu Mbak Hikmah. Ah, itu memang yang namanya jodoh.

Mbak Hikmah berkata bahwa salah satu cobaan yang paling berat bagi suami ketika baru saja masuk Islam, bukan karena tidak bisa makan babi ataupun minum alkohol (karena pada dasarnya Pak Matsui tidak menyukai kedua hal ini), tetapi adalah ketika mencoba puasa di musim dingin dan ditambah lingkungan kerja yang berat.

Saat itu, lingkungan pertemanan Pak Matsui mungkin tidak habis fikir kenapa ada orang Jepang yang memutuskan beragam Islam, bahkan sebenernya memutuskan beragama di tengah masyarakat yang memilih tidak beragama sepertinya sudah terlihat aneh. “Kenapa kamu beragama?” memang menjadi salah satu pertanyaan koleganya.

Itulah salah satu resiko terbesar dari seorang warga Jepang ketika memutuskan untuk masuk Islam, yaitu kemungkinan kehilangan komunitas nya yang dahulu. Tapi, insya Allah jika semuanya dilakukan demi Allah, maka menjadi berkah.

Membesarkan anak di Jepang sambil menanamkan identitas sebagai muslim adalah tantangan yang cukup berat. Mbak Hikmah ingin anaknya berfikir bahwa tidak ada yang salah menjadi orang Jepang dan muslim, dan dengan menjadi anak dengan latar belakang dua negara tidak membuat mereka “kurang menjadi Jepang”.

Suatu ketika, salah seorang anak Mbak Hikmah berkata: “Saya sudah memilih sebagai orang Jepang, jadi saya tidak usah menjadi seorang muslim”. Mendengar perkataan tersebut, Mbak hikmah lalu memperlihatkannya video mengenai orang Jepang yang menjadi muslim, bagaimana perjalanan mereka sampai menemukan ajaran yang indah ini. Lalu, beliau juga memperlihatkan kepada anaknya tentang Muslim di belahan dunia lain. Menjadi muslim itu tidak ada kaitannya dengan gender, suku ataupun ras.

Sebenarnya, untuk pertanyaan anak yang seperti ini, Mbak Hikmah sudah mempunyai jawaban yang singkat tapi sangat mengena “Kalau menjadi jepang lalu tidak usah menjadi muslim, lalu Ayah mu kurang “jepang” bagaimana lagi?”

Selain itu, menurut Mbak Hikmah, hal yang harus paling dikuatkan oleh anak yang besar di Jepang adalah tauhidnya, karena di Jepang ini terlalu banyak hal yang syirik. Salah satunya adalah jika  menemukan bunga “four-leaf clover” berarti akan mendapatkan keberuntungan, jika menemukan kucing hitam maka akan mendapatkan kejadian buruk seharian.

Tidak mudah bagi seorang Ibu untuk “menuntun” suami menjadi seorang muslim dan anak-anak menjadi penerus generasi yang mengingat Tuhannya. Namun, segala hal yang Mbak Hikmah lakukan insya Allah akan menginspirasi orang sekitar dan semoga Allah SWT memberkahi.

Belajar dari Teh Afwa Firdausi (Lulusan Farmasi ITB & Kanazawa University)

Afwa Firdausi

Begitu banyak teteh dan kakak rantau yang memberikan pelajaran hidup (hehe) bagi Ibu Kyoko, salah satunya adalah Teh Afwa Firdausi.

Beliau itu kalau diibaratkan kain, mungkin seperti Kain Cotton nya Rashawl. Terliat seperti “katun umum” dari luar, terlihat polos. tetapi kalau mau kita pegang, kita akan segera tau bahwa katun ini beda kualitasnya. Kalau kita mau menelisik lebih dalam, maka kita akan tau betapa luar biasanya Teh Afwa dibalik sifat “penghindar spotlight” nya.

Sebagai mahasiswa pertukaran dengan beasiswa yang Alhamdulillah cukup, namun acap kali seret di akhir bulan membuat Ibu Kyoko amat bersyukur jika ada senior yang menawarkan traktiran ataupun masakan bikinan sendiri. Tehh Afwa, adalah salah satu wanita perkasa yang baik hati memasakkan makanan enak setiap kali Ibu Kyoko berkunjung ke rumah. Dari zaman Ibu Kyoko masih imut sebagai mahasiswa pertukaran, hingga menjalani fase tidak imut selama menjadi mahasiswa S2.

Kedatangan Tehh Afwa ke Jepang dimulai dengan menjadi research student program Master di Kanazawa University via Beasiswa Monbusho U to U. Keputusannya untuk memilih studi di Jepang adalah karena saat itu kebetulan dia melihat pengumuman untuk masuk ke Universitas tersebut. Di saat yang sama, kebetulan Teh Afwa belum mendapatkan pekerjaan yang diinginkan. Sungguh kebetulan yang indah.

Tidak pernah terfikir oleh Tehh Afwa bahwa dia akan berada di Jepang sampai sejauh ini. Memulai dari studi S2 di Kanazawa, lalu melanjutkan kerja di salah satu perusahaan ternama di Tokyo. Dulu, dia berfikir bahwa dia akan bekerja tidak jauh dari lokasi rumahnya di daerah Jawa.

Tehh Afwa diberkahi Allah bertemu dengan banyak orang baik semenjak menapakkan kaki di Jepang. Mulai dari teman lab yang tidak segan menyapa terlebih dahulu hingga Sensei (Professor di lab) yang mendukung dirinya. Mempunyai teman lab yang baik dan Sensei yang supportive adalah hal yang amat patut disyukuri ketika studi di negara matahari terbit ini. Hal yang paling Teh Afwa ingat dari Professor adalah ketika beliau berkata “No Excuse”. Hal ini dilontarkan saat Teh Afwa menjelaskan bahwa dia tidak bisa melakukan hal ini dan itu di awal masa-masa nya di lab. Setelah Sensei nya berkata seperti itu, Teh Afwa makin memahami secara jelas bahwa di Jepang ditunjukkan untuk mereka yang mau bekerja keras.

Teh Afwa yang jago menghias rumah dan jago memotret ini (bisa disebut multitalenta karena dia juga jago menggambar!) menyimpan keinginan untuk kembali pulang ke Indonesia. Jika suatu saat nanti balik ke Indonesia maka Teh Afwa ingin mengurus manajemen sekolah yang sedang dibangunnya di Indonesia bersama dengan saudaranya, sambil mengerjakan kerja sambilan yang bisa dikerjakan dari rumah. Wah menariknya..

Perempuan lulusan Farmasi ITB ini pun menjadi banyak rujukan teman-teman Indonesia tentang makanan halal selama tinggal di kanazawa-shi, Ishikawa-ken. Hal ini tidak lepas dari kelihaian Teh Afwa dalam berbahasa Jepang, selain itu beliau adalah orang yang berhati-hati serta bisa dipercaya.Oh iya, terkait kemampuan bahasa Jepang Teh Afwa yang fasih, beliau bisa mencapai level tersebut dalam kurun waktu kurang dari 3 tahun!

Kalau ditanya apakah alasannya bisa cepat fasih dalam belajar bahasa Jepang, selain memang Teh Afwa membangun mental “no excuse” tersebut, Tehh Afwa pernah diancam untuk turun level kelas bahasa Jepang jika nilai bahasa Jepang nya tidak membaik. Karena Teh Afwa adalah satu-satu nya orang Indonesia di kelas tersebut, dan ancaman dari guru tersebut diketahui oleh teman-teman murid internasional di kelas tersebut, maka Teh Afwa berusaha keras untuk tidak memalukan nama Indonesia (setidaknya hihi) dengan belajar keras. Bravo Teh Afwa, keren!

Banyak orang yang berjasa membentuk pribadi pembelajar seperti Teh Afwa sekarang, salah satunya adalah almarhum Bapak Tehh Afwa. Teh Afwa bercerita bahwa orang yang memotivasinya belajar agama adalah Bapaknya. Dari tidak terlalu paham dengan agama, Bapak berusaha menemukan Islam dengan mengikuti Pak Haji sembari bekerja sambilan. Kerja keras Bapak untuk menemukan islam sendiri, menjadi modal semangat Teh Afwa untuk belajar agama.

Tehh Afwa bangga menjadi muslimah, dengan memakai jilbab itu menjadi identitas pembeda kita ketika berada di negara dengan muslim minoritas . Saat di Taiwan, Perempuan yang identik dengan warna biru ini pernah ditegur oleh seorang Singapur-cina ketika sedang mengantri makanan di restaurant. Seseorang tersebut berkata bahwa “Teh Afwa tidak bisa makan makanan tersebut karena mengandung babi”,di mulai dari perkataan itu, Teh Afwa dan orang tersebut bisa memulai obrolan. Mendapat teman baru 🙂

Bersyukur berjilbab, karena dengan begitu kita terselamatkan dari keburukan 🙂

Begitu banyak hal yang bisa ditulis tentang senior yang satu ini, namun kali ini kita selesaikan disini dahulu. Untuk mengenl Teh Afwa melalu karya fotonya, bisa dicek disini: &

Sampai ketemu di pos selanjutnya ya! <3 <3



Ibu Kyoko

Inspirasi Muslimah Episode 2: Menjadi Syakaijin 社会人 Muslimah di Jepang

nonameMuslimah Indonesia yang tinggal di Jepang, bukan hanya mereka yang berstatus sebagai Pelajar. Ada yang berniat menemani pasangan, dan ada juga yang berniat untuk mendapatkan pengalaman kerja pertama di Jepang.

Mereka bukanlah orang yang sejak awal memang “jebolan” universitas Jepang, tetapi mereka adalah sarjana yang direkrut langsung dari Indonesia oleh perusahaan Jepang. Salah satunya adalah Melna Monica, wanita lulusan Farmasi ITB yang saat ini tercatat sebagai salah satu pegawai major company di Jepang.

Melna tidak terfikir untuk pergi ke Jepang menjadi 社会人. Sejak menginjak tahun pertama (TPB) di ITB, yang menjadi target Melna adalah melanjutkan S2 & S3 ke Heilderberg University, Jerman.
Sempat Melna melakukan pendekatan dengan berbagai dosen untuk melancarkan proses aplikasi S2 nya, tapi belum membuahkan hasil.
Sampai akhirnya peristiwa wafatnya Ayah di September 2012 membawa efek yang besar bagi Melna sehingga Anak Sulung ini memutuskan untuk “melupakan” mimpinya dan fokus untuk mencari kerja.

Sebelum lulus, Melna sudah rajin mencari peluang kerja, salah satu channel yang dipakai adalah dengan mengikuti ITB Career Day di Bulan Mei 2014. Di hari itu, Melna memberanikan diri mendaftar ke salah satu perusahaan besar Jepang, M. Corporation. Betapa kagetnya Melna, karena hari itu juga dia diwawancara oleh sang Regional Manager yang sangat ramah. Walaupun Melna tahu background S1 dia berbeda dengan bidang yang dia daftarkan, tapi dia tetap percaya bahwa kalau rezeki itu sudah dituliskan Allah maka tidak ada yang bisa menolaknya ☺

bekerja di Jepang penuh dengan tantangan tersendiri. Yang pertama adalah: “harus bisa berkomunikasi dalam bahasa Jepang”. Awalnya sangat sulit dan dirasa lelah sekali tetapi lama kelamaan menjadi biasa

Hal lain yang dirasakan adalah sulitnya bagi orang asing, dibandingkan dengan orang Jepang untuk mendapatkan kepercayaan atasan untuk mengerjakan tugas. Ini memang termasuk hal yang tidak bisa dihindari saat bekerja di luar negeri, namun ini adalah tantangan tersendiri bagi melna untuk bisa mampu bekerja dan bertanggung jawab atas tugas yang Melna ambil.

Ditambah lagi, dengan suasana bekerja yang disiplin dan dikelilingi oleh partner kerja yang amat sungguh dalam bekerja membuat Melna terpacu untuk seperti mereka. Awalnya mungkin karena terpaksa atas dasar peraturan dan faktor “gengsi” tapi insya Allah kedepannya akan menjadi kebiasaan baik yang bisa ditularkan.

Di tempat kerjanya yang sekarang, Melna diberikan tempat khusus untuk beribadah dan diberi keleluasaan untuk sholat 5 waktu dan sholat Ied asalkan segala pekerjaan sudah diselesaikan. Terlebih untuk sholat Ied, Melna sudah ijin sejak jauh-jauh hari saat pengumuman cuti tahunan.

Paling menantang adalah ketika harus menyesuaikan waktu sholat dengan waktu meeting, apalagi di Jepang yang dengan perubahan musim ini membuat waktu sholat jadi jauh berbeda. Tetapi insya Allah selama ada niat untuk beribadah, maka Allah akan memudahkan segalanya.

Teman kerja Melna pun juga tidak bisa menyembunyikan rasa penasaran mengapa ibadah orang Islam bisa begitu banyak, mulai dari puasa sebulan, lalu ada puasa sunnah. Acap kali, mereka juga bertanya tentang panjang rambut, warnanya, dan apakah Melna memotong rambutnya sendiri?

Terkadang Melna merasakan adanya batas interaksi antara dia dan kawan-kawannya dengan tidak ikut nomikai dan karaoke bersama. Namun Melna melihat banyak sisi positif dari hal itu, salah satunya adalah tidak perlu balik malam hari dan hemat uang : )

Dengan karir nya sebagai pekerja di perusahaan besar saat ini, Melna sebenernya mempunyai rencana jangka panjang untuk menjadi entrepreneur, dan memang aktivitas berjualan ini sudah disukai Melna sejak jaman kuliah. Dengan membangun bisnis sendiri dan mempunyai waktu kerja yang lebih fleksibel, Melna berharap bisa fokus untuk mengurus keluarganya nanti.
Pengalaman kerja di Jepang diharapkan akan membantu Melna memahami ilmu management. Semoga lancar ya Melna , semoga Allah SWT memberkahi setiap rencana baikmu

Buat pengunjung pasar, terimakasih sudah membaca cerita Melna ini yaa dan selamat pagi !

Inspirasi Muslimah di Jepang Episode 1: Alanna Faradhiyani






Perjalanan Alanna di Jepang

Perjalanan Alanna ke Jepang dimulai ketika teman Ayahnya yang juga alumni Monbusho memberikan informasi tentang beasiswa pemerintah Jepang ini.

Saat keinginan ke Jepang itu muncul, Alanna masih tercatat sebagai mahasiswa di Universitas Udayana. Namun memang, gadis yang menghabiskan masa kecil di Bali ini sudah merasa tidak cocok dengan jurusan yang diambil saat itu. Akhirnya Alanna ingin mencoba petualangan baru dengan mendaftar beasiswa Monbusho.

Hijrah ke tempat baru dan hidup sendiri sebenernya bukan hal baru untuk dara bali ini. Sejak dini Alanna sudah tinggal di Bandung berpisah dengan orang tua untuk melanjutkan SMA.

Lalu, apakah setelah tinggal lebih dari 5 tahun di Jepang, Alanna merasa negara ini sesuai dengan prediksinya?
Menurut gadis berparas ayu ini, Jepang yang `tepat waktu` dan `workaholic` sesuai dengan ekspektasinya, tetapi ada satu hal yang memang menjadi tantangan awal (dan mungkin sampai sekarang?) selama tinggal di jepang.

Menghabiskan masa-masa 専門学校 di Toyama dan dilanjutkan di Tsukuba University, Alanna merasa bahwa berteman dengan orang Jepang memang tidaklah mudah. Mencari topik pembicaraan dengan teman wanita Jepang pun bukan hal sederhana.”Aku ga terlalu suka baca komik, dengerin J-pop juga ga suka, gimana dong?” Imbuh Alanna.
Dengan keadaan seperti itu pun, Alanna tetap berusaha menjaga hubungan pertemanan dengan teman-teman Jepangnya.

Alanna lebih dari paham bahwa tinggal di Jepang membutuhkan kerja keras. Seperti saat proses mendapatkan beasiswa dari D3 menuju S1 lalu S2, itu bukan perjuangan main-main. Terlebih lagi ketika harus bersaing sesama kawan dekat yang sudah lama berjuang bersama dari awal tiba di Jepang, untuk mendapatkan beasiswa S2 yang jumlahnya terbatas.

Selain dari itu, proses belajar selama S2 memberi makna tersendiri untuk gadis bersuara merdu ini.Selama menjalani pendidikan S2 di Tsukuba, Alanna belajar untuk menghargai proses riset yang dialami dan tidak membandingkan prestasi dan keadaan riset orang lain dengan dirinya, yang berujung membuat dirinya kurang bersyukur.

Dengan mental berjuang tersebut, Alanna berusaha menampilkan prestasi terbaik, salah satunya dengan menjadi perwakilan lab untuk melakukan presentasi ilmiah di conference 学会. Hal ini adalah pencapaian tersendiri untuk mahasiswa asing di lab yang bersuasana sangat Jepang.

Dibalik kesulitan yang dialami selama di Jepang, Anak sulung dari 4 bersaudara ini mengaku bersyukur atas kemewahan fasilitas studi yang didapatkan selama di Jepang.

Di Jepang ini dia bisa menggunakan berbagai bahan kimia penelitian secara percuma, dimana sebagian besar kawan di Indonesia masih harus membayar “biaya belajar” tersebut . Alat penelitian sudah tersedia lengkap, tidak perlu repot meminjam ke lembaga lain. Selain itu, akses jurnal internasional dan kesempatan mengikuti conference pun terbuka luas.

Tantangan di Jepang berlanjut, nikmat yang Allah berikan pun berlanjut tak terputus. Karena itulah, Alanna berusaha belajar untuk tidak mengeluh karena tantangan orang lain sangat mungkin lebih berat dari dirinya.

Perjalanan Hijab Alanna

Alanna pertama kali menggunakan hijab saat SMP saat mendapat datang bulan yang pertama. “Pakai hijab itu memang bukan pilihan tapi kewajiban, jadi pakai begitu harus sudah pakai”, kata Alanna.

Tinggal di Bali dan berhijab, saat itu, juga masih menjadi pemandangan yang baru. dan ini adalah tantangan tersendiri bagi Alanna. Tantangan yang sama juga dialami ketika berhijab di Jepang. Perbedaannnya adalah, Alanna merasa harus menjelaskan tentang Islam kepada orang Jepang yang bertanya, tanpa menyiratkan kesan bahwa Islam adalah Agama yang berat.

Sebagai wajah atau representasi muslimah Indonesia di Jepang, Alanna merasa harus berperilaku dengan lebih berhati-hati untuk mengurangi judgment tertentu terhadap perempuan berhijab.

Role model Alanna
Menjadi sosok Alanna seperti sekarang, mandiri sejak dini dan berprestasi tentu bukan tanpa sokongan dari orang tua. Alanna sendiri, memilih Ibunya sebagai orang yang banyak menginspirasi dirinya.
Menjadi single mother setelah berpisah dengan Ayah Alanna dan mengurus 4 anak perempuan, tentu membutuhkan jiwa yang tangguh.

Ketangguhan inilah yang Alanna banyak belajar dari sang Ibu.
Alanna belajar bahwa sebagai perempuan harus siap dengan segala kondisi di masa yang akan datang. Sehingga melanjutkan sekolah itu penting dan berpikir untuk punya kemandirian finansial adalah hal yang tidak dikesampingkan, meskipun memang bukan kewajiban.

Menjadi kakak dari 3 adik perempuan tetapi tinggal jauh dari adiknya sejak lama pun menjadi tantangan buat Alanna. Meskipun memang dia tidak bisa melihat langsung momen-momen besar dari sang Adik, tetapi dia berusaha untuk terus memberikan “dukungan kakak” dari jauh.

Insya Allah, Ayah, Ibu dan adik-adik bangga mempunyai anak (sekaligus kakak) seperti Alanna ya <3

Terimakasih banyak ya Alanna sudah bersedia diwawancara Ibu Kyoko <3